PEMBELAJARAN DENGAN MODEL STM (SAINS TEKNOLOGI MASARAKAT)

Sunday, July 24, 2011 Posted by Rino Safrizal
Menurut Rusmansyah dan Irhasyuarna, (2003) STM adalah terjemahan dari Sains Technology Society (STS) yaitu usaha menyajikan IPA dengan menggunakan masalah-masalah dari dunia nyata. STM adalah suatu pendekatan yang mencakup seluruh aspek pendidikan yaitu tujuan, topik/masalah yang akan dieksplorasi, strategi pembelajaran, evaluasi dan persiapan kinerja guru. Pendekatan ini melibatkan siswa dalam menentukan tujuan, prosedur pelaksanaan, pencarian informasi dan dalam evaluasi. Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal pengetahuan sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat sehingga dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya (NTSA Report, 1991).

Menurut La Maronta Galib (2003) Model STM adalah belajar mengajarkan sains dan teknologi dalam konteks pengalaman dan kehidupan sehari-hari, dengan fokus isu-isu/masalah-masalah yang sedang dihadapi masyarakat, baik bersifat lokal, regional,nasional, maupun global yang memiliki komponen sains dan teknologi. Hadiat (1996) menyatakan bahwa istilah STM yang dibuat John Ziman dalam bukunya berjudul Teaching and Learning about Science and Society (1980) adalah suatu bentuk pengajaran yang tidak hanya menekankan pada pengusaan konsep-konsep sains saja tetapi juga menekankan pada peran sains dan teknologi di dalam berbagai kehidupan masyarakat dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial siswa terhadap dampak-dampak sains dan teknologi yang terjadi dimasyarakat. NTSA (National Science Teachers Association dalam Yager 1993:637) mendefinisikan bahwa pendekatan STM merupakan belajar dan mengajar mengenai sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia.

Dengan konteks pengalaman manusia, NTSA telah mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperhatikan dalam STM (Poedjiadi, A, 2005) yaitu:
  • Menggunakan konsep-konsep sains, keterampilan proses dan nilai apabila mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
  • Mengetahui bagaimana masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi serta bagaimana sains dan teknologi masyarakat.
  • Mengetahui bahwa masyarakat mengontrol sains dan teknologi melalui pengelolaan sumber daya alam.
  • Menyadari keterbatasan dan kegunaan sains dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
  • Memenuhi sebagian besar konsep-konsep dasar sains, hipotesis dan teori sains dan mampu menggunakannya.
  • Menghargai sains dan teknologi sebagai stimulus intelektual yang dimilikinya.
  • Mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah tergantung pada proses-proses inquiri dan teori-teori.
  • Membedakan fakta-fakta ilmiah dan opini pribadi.
  • Mengakui asal-usul sains dan mengetahui bahwa pengetahuan ilmiah adalah tentatif.
  •  Mengetahui aplikasi teknologi dan pengambilan keputusan menggunakan teknologi.
  • Memiliki pengetahuan dan pengalaman cukup untuk memberikan penghargaan pada penelitian dan pengembangan teknologi.
  • Mengetahui dan menggunakan sumber-sumber tersebut dalam pengambilan keputusan.

Mengenai hubungan antara sains dan teknologi serta keterkaitannya dengan tujuan-tujuan pendidikan, Trowbridge dan Bybee (1990) dan Yager (1992) (dalam La Maronta Galib, 2002) menyatakan bahwa dalam suatu paradigma seperti terlihat pada gambar 1. nampak bahwa sains (saintis) diawali dengan bertanya kepada alam atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang dunia kealaman (natural world), sedangkan kegiatan teknologi (teknolog) diawali dari masalah-masalah yang sedang dihadapi manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan/alam.
Hubungan antara sains dan teknologi serta tujuan-tujuan pendidikan
(Trowbriedge & bybee, 1990; Yager, 1992)

Secara operasional, pembelajaran dengan model STM memiliki karakteristik sebagai berikut:
  • Diawali dengan isu-isu/masalah-masalah yang sedang beredar serta relevan dengan ruang lingkup isi/materi pelajaran dan perhatian, minat, atau kepentingan siswa.
  • Mengikutsertakan siswa dalam pengembangan sikap dan keterampilan dalam pengambilan keputusan serta mendorong mereka untuk mempertimbangkan informasi tentang isu-isu sains dan teknologi.
  • Mengintegrasikan belajar dan pembelajaran dari banyak ruang lingkup kurikulum.
  • Mengembangkan literasi sains, teknologi, dan sosial.
(La Maronta Galib, 2002)

Tiga landasan penting dari model STM (Iskandar, 1991; Susilo, 1994; Poedjiadi, 1994; Hidayat, 1996 dalam Rusmansyah) yaitu:
  • Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat.
  • Proses belajar mengajar menganut pandangan konstruktivisme (siswa membentuk atau membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan).
  • Dalam pengajarannya terkandung lima ranah kreativitas, ranah hubungan dan aplikasi.

Poedjiadi, A (2005) menyatakan bahwa model STM adalah suatu pengetahuan interdisiplin yang melibatkan sains sebagai pengetahuan kealaman, teknologi yang menghasilkan produk yang digunakan oleh masyarakat dan kehidupan masyarakat dan termasuk kesejahteraannya. Masyarakat yang menggunakan produk teknologi perlu memiliki pemahaman mengenai sains yang dapat dijadikan bekal untuk memelihara produk teknologi agar selalu berfungsi dengan optimal dan dapat mengatasi kesulitan yang tidak terlalu besar ini dapat direalisasikan melalui siswa di sekolah atau melalui pendidikan non formal bagi masyarakat.

Adapun tahap-tahap dari pendekatan STM (Poedjiadi, A, 2005) yaitu sebagai berikut:
  • Tahap apersepsi yaitu mula-mula dikemukakan isu-isu atau masalah aktual yang ada dimasyarakat dan dapat diamati peserta didik.
  • Tahap pembentukan konsep yaitu peserta didik membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui observasi, eksperimen, diskusi, dan lain-lain.
  • Tahap aplikasi konsep atau penyelesaian masalah yaitu menganalisa isu-isu atau masalah yang telah dikemukakan diawal pembelajaran berdasarkan konsep yang telah dipahami sebelumnya.
  • Tahap pemantapan konsep, yaitu guru memberikan pemantapan konsep-konsep agar tidak terjadi kesalahan pada diri pendidik.
  • Tahap evaluasi, pada tahap ini penggunaan portofolio atau data pribadi peserta didik sangat disarankan.

REFERENSI

Galib, L. 2002. Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat dalam pembelajaran Sains di sekolah Jurnal Pendidikan dan kebudayaan.No 034. Tahun ke 8 bulan januari: hal 38.

Poedjiadi, A. 2005. Sains Teknologi Masyarakat (Model Pembelajaran Konstektual Bermuatan Nilai). Bandung : PT Remaja Rosdakarya bekerjasama dengan program pasca sarjana UPI Bandung.

Rusmansyah dan Irhasyuarna. 2001. Implementasi Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran Kimia di SMU Negeri 1 Kota Banjarmasin. http://www.depdiknas.go.id/jurnal/40/Implementasi%20Pendekatan%20Sains-Teknologi-Masyarakat.htm.
Labels:

Post a Comment

FOLLOWER