Memberi Tanpa Pertimbangan

Thursday, June 11, 2009 Posted by Rino Safrizal
Oleh : Herry Tjahjono

Krisis terus melenggang, kesusahan dan penderitaan mendera, situasi politik berwajah bopeng. Kehidupan di seputar kita kian tak nyaman dan tak pasti. Dalam kondisi seperti ini, biasanya ada beberapa respon manusiawi yang akan menentukan eksistensi orang itu di masa depan. Ada yang terperangkap aneka kondisi itu. Ini adalah mereka yang cenderung terfokus pada kondisi kegelapan saat listrik (kehidupan) padam.

Namun, ada yang terfokus pada setitik sinar. Tipe kedua inilah yang biasanya menangkap apa yang pernah diungkap Rhenald Kasali (“Sepuluh Kearifan Krisis”, Kompas, 4/4).

Dua Tipe Manusia

Maka, ada dua tipe manusia. Pertama, mereka yang respon kehidupannya ditentukan oleh kondisi sekitarnya (conditional people). Jika kondisi serba krisis, penuh tekanan, mereka kehilangan spirit, dan cenderung meringkuk, atau paling tidak sekedar mengamankan diri. Mereka biasanya medioker atau sering menjadi pecundang (the loser) dalam kehidupan.

Bagi mereka, sukses dan kebahagiaan adalah penantian, tergantung dari kondisi yang berpihak. Bagi mereka, sukses dan kebahagiaan adalah cap-cap yang dilekatkan kondisi sekitar. Jika lingkungan menentukan, sukses identik uang dan kekayaan, maka mereka tak pernah sukses seberapa pun uang dan kekayaan di kantongnya. Jika sukses diidentikkan dengan jabatan direktur, mereka belum merasa sukses dan bahagia sebagai senior manager atau general manager meski jutaan orang mencari pekerjaan atau bawahannya sekedar hidup dengan upah minimum.

Kedua, mereka yang memandang hidup adalah pilihan, keputusan, tak peduli kondisi sekitar (unconditional people). Maka, segelap apa pun kondisi sekitar, merekalah yang menentukan, memilih, untuk tetap bersukacita, bersemangat, termotivasi, optimistis menyapa kehidupan. Manusia semacam ini disebut manusia besar (great people), the winner. Orang yang tetap bisa bersukacita dan memilih untuk bersemangat meski krisis mengancam jabatan dan pekerjaan adalah orang yang memenangi hidup.

Seorang office boy yang tetap bersemangat menyapu sebersih mungkin meski terancam PHK adalah seorang great employee. Sebaliknya, seorang CEO yang dituntut berkinerja kian tinggi oleh owner akibat krisis, lalu mulai stres, gampang marah, dan melempar bola panas permasalahan kemana-mana, dia tak lebih dari karyawan medioker.

Kondisi dan situasi politik yang memprihatinkan plus ekses krisis yang kian menekan kehidupan juga menentukan profil rakyat terkait pesta demokrasi. Ada rakyat yang tetap bersemangat dan melakukan hak pilih mesti hatinya mengeluh pada kinerja para pemimpin. Bahkan, ada yang tetap penuh semangat ikut memilih dalam pemilu presiden mendatang meski jadi korban daftar pemilih tetap (DPT) yang amburadul.

Mereka ini adalah para great citizen. Sedangkan para “golput” (di luar korban DPT amburadul) yang tidak memilih karena kecewa dan apatis akibat kondisi “sosekpol” kacau tak lebih dari para warga medioker.

Bangsa ini memerlukan sebanyak mungkin unconditional citizen-employee- leader dan seterusnya. Syarat sebuah bangsa yang besar (great nation) adalah bangsa yang dipenuhi manusia yang memilih tetap berwajah riang, bersemangat, tak peduli krisis global menghantam atau situasi politik membikin lelah jiwa.

Lebih jauh, hanya unconditional people inilah yang berpotensi melahirkan berbagai karya besar, karya agung dalam hidupnya, tak peduli sekecil dan serendah apa pun pekerjaan, jabatan, dan statusnya. Jika mengadaptasi salah satu elemen penting Daffodil Principles, “memberi tanpa pertimbangan”, hanya para unconditional people inilah yang paling mampu menjalankan. Mereka adalah manusia pemilih, penentu, untuk bersemangat dan bahagia memenuhi semua tugas hidup tanpa syarat, seburuk apa pun kondisi di sekitarnya.

Prinsip itu pula – meski listrik kehidupan padam dan penuh kegelapan – yang membuat mereka tetap bersemangat mengukir karya-karya terbesarnya tanpa pertimbangan lain kecuali hanya untuk mengukir. Memberi tanpa pertimbangan bukan perkara sederhana. Betapa sering kita maju mundur untuk sekedar memberikan uang receh kepada pengemis di pinggir jalan. Berjuta pertimbangan menyergap, “Ah paling-paling itu anak sewaan. Masih muda kok sudah mengemis. Ini tidak mendidik.” Karena itu, jika akhirnya kita memberi, hati pun bersungut-sungut.

Namun para unconditional people justru dengan sukacita memberi sebab ia memberi tanpa pertimbangan apa pun. Ia hanya ingin memberi, giving for no reason! Pada titik inilah seseorang lebih melihat nyala korek api saat gelap menyelimuti, menatap jalan hidup sedang naik saat kakinya terasa berat.

Maka, pesan moral dari prinsip “memberi tanpa pertimbangan” adalah “Menarilah seolah tak seorang pun menonton. Menyanyilah seolah tak seorang pun mendengarkan. Bekerjalah seolah tak memerlukan uang gaji, atau jabatan. Cintailah seolah tak pernah disakiti. Berbisnislah seolah tak lagi memerlukan profit. Mencontrenglah seolah bukan simpatisan atau anggota partai manapun. Berpolitiklah seolah tak lagi punya kepentingan. Memimpinlah seolah tak lagi memerlukan sebuah kekuasaan.”

Ketika kita memilih itu semua, akan lahir karya-karya terbesar dan agung dalam setiap penggalan kehidupan, tak peduli serendah atau setinggi apa pun kedudukan kita saat ini, sesedikit atau sebanyak berapa pun uang kita, dan seterusnya.

Itu berarti kita memenangi hidup. [Herry Tjahjono, Motivator Budaya dan President The XO Way, Jakarta – Kompas, 23/5]

----------

Bagaimana dengan serial ‘drama demokrasi’ menuju legislatif 2009 dan episode menuju RI-1/RI-2. Atau bagaimana dengan kehidupan kita yang sering lebih dahulu berasumsi bahwa kita terbatas, sedikit, tidak mampu untuk memberi sesuatu pun kepada orang lain, atau bahkan yang lebih ekstrim lagi, sampai-sampai tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan diberikan – bagaimana kalau hal itu menjadi sindrom elite, pemimpin, legislatif atau bahkan berbagai lapisan masyarakat luas. Kembali kita diingatkan akan sebuah panggilan kehidupan, kesadaran dan kemanusian kita. Maka para unconditional people pun akan menjadi cahaya, sinar, terang dan harapan - asa bagi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia ke depan.

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat!

Mau berpartisipasi dengan forum Inspirasi Indonesia? Klik di sini

  1. If you need your ex-girlfriend or ex-boyfriend to come crawling back to you on their knees (no matter why you broke up) you must watch this video
    right away...

    (VIDEO) Win your ex back with TEXT messages?

Post a Comment

FOLLOWER