Showing posts with label PENYU. Show all posts
Showing posts with label PENYU. Show all posts

Telur Terlarang di Kota Padang

Saturday, May 28, 2011 Posted by Rino Safrizal 0 comments
Mengutip berita yang dilansir Kompas 2 minggu lalu (walau terkesan udah expired) tentang perdagangan telur penyu di Padang Sumatra Barat 
Perdagangan telur penyu di Kota Padang, Sumatera Barat, sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan. Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Penyu Sumatera Barat, Universitas Bung Hatta, Padang, transaksi perdagangannya merupakan yang terbesar di Indonesia.
Tidak kurang 22.000 butir telur penyu bisa diperjualbelikan hanya dalam waktu 11 pekan. Tempat terbuka, seperti warung-warung di kawasan wisata Pantai Padang, menjadi lokasi perdagangan yang aman dari jamahan hukum.
Sekalipun penyu termasuk hewan terancam yang dilindungi berdasarkan Convention and International Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) appendix I , perdagangannya terus dilakukan terang-terangan, bahkan masuk dalam salah satu program unggulan pariwisata.
Pada Selasa (17/5/2011) siang itu, seorang remaja putri berusia 12 tahun menjaga warung makanan dan minuman ringan milik orangtuanya. Sebut saja namanya Putri, yang tidak memahami bahwa salah satu barang dagangan milik orangtuanya adalah telur-telur penyu yang sesungguhnya dilarang diperjualbelikan.
Siang itu, bersama sejumlah bocah cilik, Putri menunggui warung tersebut. Tangan mungilnya mengaduk-aduk baskom berpasir berisikan telur-telur penyu yang baru datang dari pengepul.
"Direbus, Bang?" tanya Putri kepada calon pembelinya. Tak lama tiga butir telur penyu sisik sebesar bola pingpong sudah berpindah ke dalam panci berisi air menggelegak oleh panas kompor minyak tanah.
Sekitar lima menit kemudian, telur-telur tadi dimasukkan dalam plastik mungil. Suwiran kecil-kecil daun seledri dimasukkan dalam wadah itu untuk menghilangkan bau amis.
Dengan cekatan dibungkusnya plastik kecil tadi, lalu tiga butir telur penyu sisik tadi pun berpindah tangan.
Putri fasih bercerita bahwa telur-telur penyu yang dijual berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan dan Kepulauan Mentawai. Untuk telur penyu sisik ditawarkan Rp 5.000 per butir dan Rp 6.000 per butir untuk telur penyu hijau.
Sudah sepuluh tahun terakhir orangtua Putri berjualan di kawasan wisata itu. Tidak kurang 100 butir telur penyu bisa dijual pada hari Minggu atau libur.
Pada hari-hari biasa antara 30 dan 50 butir telur penyu bisa dijual. Ada margin keuntungan hingga Rp 1.000 per butir telur yang bisa ditangguk pedagang seperti orangtua Putri.
Di sepanjang Jalan Muara yang berbatasan dengan Pantai Padang , tempat Putri menjaga warung milik orangtuanya, ada sejumlah pedagang lain yang menjajakan telur penyu. Nyaris semuanya adalah pedagang minuman dan makanan ringan dalam gerobak kayu beratap.
Jumlah pedagang telur penyu disinyalir juga makin banyak. Koordinator Pusat Data dan Informasi Penyu Sumatera Barat, Universitas Bung Hatta, Padang, Harfiandri Damanhuri MSc, mengatakan, pada tahun 2004 baru tercatat 18 pedagang.
Jumlah itu meningkat menjadi 22 pedagang tahun 2008 dan 26 pedagang pada 2011. Rata-rata setiap pedagang menjual 77,8 butir telur penyu per hari.
Jumlah itu, katanya, tidak sebanding dengan upaya konservasi berupa penetasan telur penyu yang dilakukan pemerintah selama ini di dua lokasi. Masing-masing di Pantai Mangguang, Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Pusat Penangkaran Penyu, Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, dan di (KKLD) Pulau Karabak, Kabupaten Pesisir Selatan.
Harfiandri mengatakan, mereka hanya berhasil menetaskan 383,84 telur penyu per bulan di KKLD Kota Pariaman dan 393,66 telur penyu per bulan di KKLD Kabupaten Pesisir Selatan. Padahal, eksploitasi pada tahun 2000 saja sudah mencapai 318,34 butir telur per hari, katanya.
Adapun jenis telur penyu yang diperdagangkan terbagi dalam empat jenis, yakni telur penyu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).
Membedakan keempat jenis telur penyu dengan cangkang yang relatif lunak itu relatif mudah. Telur penyu sisik dan lekang besarnya seperti bola pingpong. Adapun telur penyu hijau menyerupai besar telur ayam dengan bentuk lebih bulat. Sementara telur penyu belimbing diameternya serupa dengan bola tenis.
Karena itulah, telur penyu belimbing realtif lebih mahal. Bisa mencapai Rp 10.000 per butir. Penyu belimbing juga termasuk spesies yang paling terancam, kata Harfiandri.
Ia mengatakan, berdasarkan siklus empat tahunan hingga lima tahunan bertelurnya penyu belimbing, telur jenis penyu itu terakhir kali ditemukan tahun 2010. Sebelumnya pada 2005 dan 2001 telur penyu belimbing juga ditemukan di sejumlah pedagang.

Pembiaran

Menurut Harfiandri, hingga kini relatif tidak banyak yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal itu. Bahkan, katanya, telur penyu juga sudah mulai diperjualbelikan di pasar tradisional.
Ini dikarenakan tidak adanya fasilitas penangkaran penyu di Kota Padang. Padahal, kata Harfiandri, penyu juga diketahui suka bertelur di beberapa lokasi di wilayah pantai Kota Padang.
Erlinda Cahya Kartika yang mewakili bagian Konservasi dan Keanekaragaman Hayati di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar mengatakan, saat ini sudah dilakukan penyusunan rencana aksi. Namun, tim untuk melaksanakan rencana aksi yang direncanakan terdiri atas BKSDA Sumbar, kalangan akademisi, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, serta pemerintah setempat itu belum juga dibentuk.
Hal itu ditambah dengan belum padunya visi pelestarian dengan pariwisata di Kota Padang. Bahkan, dalam brosur wisata, pengalaman makan telur penyu di kawasan pantai ini juga dipromosikan, kata Harfiandri.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang Edi Hasymi pada Rabu (18/5/2011) mengatakan, hingga sejauh ini penjualan telur penyu di kawasan wisata Pantai Padang tetap menjadi salah satu andalan. "Kami sedang buat masterplan untuk tahun 2011 ini guna pembenahannya karena selama ini, kan, masih tradisional. Soalnya telur penyu itu ada pasarnya sendiri, ada yang memang senang dengan telur penyu," katanya.
Ia mengatakan, sekalipun memang terdapat kontroversi soal konservasi dan pemanfaatannya untuk industri pariwisata, telur-telur penyu itu dianggap masih dalam batasan yang aman untuk diperjualbelikan. Edi mengatakan, sekalipun banyak telur penyu yang dijual, upaya penangkaran juga dilakukan.
"Telur penyu adalah potensi wisata, tetap harus kita jual," kata Edi.
Sumber : Kompas
READ MORE - Telur Terlarang di Kota Padang
Labels:

PENYELUDUPAN 9000 TELUR PENYU DIGAGALKAN

Sunday, May 9, 2010 Posted by Rino Safrizal 3 comments
Malam ini saya dapat informasi dari media televisi tentang usaha penyeludupan telur penyu. Tidak tanggung-tanggung, 9000 telur penyu akan diseludupkan ke negeri tetangga Serawak Malaysia melalui bengkayang (kalau ga salah saya). Usaha ini digagalkan oleh aparat SPORC (Satuan Polisi Reaksi Cepat).

9000 telur penyu ini berasal dari Pulau Tembelan Riau (Menurut Aparat SPORC). Alur penyeludupan telur penyu ini: Pulau Tembelan Riau > Pelabuhan Pemangkat (mungkin yang dimaksud pelabuhan Sintete Kecamatan Semparuk) > Bengkawang > Serawak Malaysia, oleh pelaku yang berinisial ER dengan plat kendaraan KB 9511 P. Sayang sekali usahanya gagal (Alhamdulillah…).

Di Malaysia, telur penyu dihargai Rp. 6.000,- per butirnya. Jika dikalikan dengan 9.000, bearti ± Rp. 54.000.000,- lari ke sana dalam 1 hari,.

Di negeri jiran Malaysia, usaha konservasi penyu benar-benar diperhatikan oleh pemerintah di sana. Salut buat Malaysia. Tapi sayangnya, usaha mereka tidak didukung dengan upaya pencegahan penyeludupan telur penyu dari Indonesia. Sama juga bo’ong.., yang rugi tetap Negara kita. Perlu kerjasama antar kedua belah pihak dalam menanggulangi masalah ini.

Untuk daerah kita (Kec. Paloh Kabupaten Sambas), perlu diwaspadai juga; akses Paloh (Indonesia) dan Serawak (Malaysia) sangat dekat sekali dan sulit untuk dijangkau aparat. Kemungkinannya ada penyeludupan serupa yang terjadi di sana.

Di tahun 2008 pernah juga terjadi usaha yang sama. Pihak BKSDA Kalbar pernah menangkap satu pelaku pemilik dan penyimpan ± 6300 butir telur penyu tanpa dilengkapi Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa (SATS) yang sah. Sayangnya, pelaku hanya dijerat hukuman 1 bulan 18 hari (Kompas.com).

Beda halnya dengan yang diungkapkan oleh berita malam ini, bahwa pelaku akan dijerat hukuman 5 tahun penjara dan atau denda 5 milyar. Bagi saya, apapun hukumannya itu bisa membuat penyeludup maupun pencuri (yang saya maksudkan di sini adalah pencurian dalam skala besar) merasa jera dan takut untuk mengulangi tindakannya.

Moga aja ada penangkapan-penangkapan lain menyusul, mengingat sekarang sudah memasuki musim penyu bertelur.

‘They Won’t Survive Without our Help…’
Let’s save the last sea turtles…!!!
READ MORE - PENYELUDUPAN 9000 TELUR PENYU DIGAGALKAN
Labels: ,

CATATAN BUAT TUKIK PENYU HIJAU

Monday, April 26, 2010 Posted by Rino Safrizal 3 comments
Mungkin kita tau habitat penyu sangat unik, bahkan sangat mengagumkan betapa Tuhan telah mencptakan mahluk pengembara laut yg mengingat setiap kepak bahkan setiap helai karang yg dilaluinya. Jika kita menelusuri keberada'an habitat penyu di kepri khususnya pulau tambelan ( timbalan ), disana masih merupakan surganya para penyu ( mereka juga masih terancam oleh kepentingan pribadi). Bukan hitungan, tapi bagaimana aku pernah menyaksikan betapa tukik-tukik imut dimakan setengah matang, & bagaimana kita mampu menahan air mata yg menampung di kelopak mata sa'at melihatnya...??

Yg menyakitkan pemangsa mereka adalah nelasan asing, dlm arti mereka ilegal.
Bagaimana kita menguraikan tentang menangisnya penyu sa'at bertelur. kalau ditilik dari segi yg mungkin tdak masuk dalam teori yg ada,.Pernah mendengar penyu melarikan diri dari pantainya...?? Ini terjadi, salah satu penyu hijau di pulau tambelan pernah melakukan aksi itu & hijrah ke pantai australia, penyu itu di kembalikan ke tambelan, tapi mereka kembali ke pantai australia lagi. Entah benar atw salah keberadaan info ini, seorang ilmuwan yg merupakan psikolog hewan itu mengambil kesimpulan bahwa penyu itu "TIDAK MELUPAKAN KAMPUNG HALAMANNYA" tapi penyu itu "FRUSTASI BERADA DI SANA". ini berdasarkan pendekatan ilmiah pribadi..

Terlalu jauh...

Terlalu panjang...

Terlalu rumit...


Bahwa penyu selalu mengingat masa lalu mereka & menangis sa'at bertelur..., para penyu slalu menangisi cikal-bakal generasi mereka yg akan punah...
Karna mereka akan punah, mari ambil kesempatan, menunggu mereka dipantai, lalu memeluk mereka dengan rasa sayang, & bisikan ditelinganya "INGAT PULANG YA".

Mungkin mereka juga akan mengingat kata2 mu...
Hehehe....
Setidaknya penyu itu mengingatmu pelukanmu di sepanjang hayatnya...


Itu adalah balasan email yg datang pada sy semalam.
Maafkan, jika sy hanya bisa berkata2x di sini. Sy menyadari tiap email yg sy kirimkan ke teman2x di group ini tidak terlalu berdampak baik terhadap kondisi penyu sekarang.
Hari ini sy ingin berbagi kisah dengan teman sy yg satu ini.

“Bahwa penyu selalu mengingat masa lalu mereka & menangis sa'at bertelur..., para penyu slalu menangisi cikal-bakal generasi mereka yg akan punah….”
ini adalah kutipan yg tidak pernah sy bayangkan sebelumnya..

Mendengar cerita Sdr, sy tidak bisa bayangin juga bagaimana kondisinya di sana. Yang sy tau sekarang, mereka ditindas, telur mereka di ambil tiap harinya, BKSDA yang punya wewenang menjaga nesting beach selimpai juga tidak bisa di percaya sepenuhnya..

kemaren kami sempat ambil telurnya sama2x dg petugas BKSDA sana, sy tanya "apakah telur ini akan ditetaskan?" dari raut mukanya sy sudah tau, jawabannya adalah "tidak"

tiap malam mereka menelurusi pantai selimpai yg panjangnya kira2x 9 km, dg alasan menjaga agar telur tidak diambil oleh pencuri. sy pikir dua2nya pencuri, "pencuri A dan pencuri B (silakan interpretasikan sendiri..)", karena yg sy liat penetasan semi alami mereka udah tidak terawat lagi..
kemana mereka membawa telur2x ini?

tukik yg ada juga tidak terawat dg baik, ada kurang lebih 60 tukik penyu hijau dan 30 tukik penyu sisik yg telah berumur ± 1 minggu ketika kami di sana..
sebagian dari mereka mati,.
sy pikir lebih baik mereka mati karena berjuang untuk menemukan ruaya pakan mereka, dari pada mereka mati di baskom kecil, sesak, dan sempit,.

mereka tidak mendapatkan hak sebagai seekor penyu sejati, mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk hidup seperti nenek moyang mereka, berjuang dr sejak keluar cangkang telur, merangkak keluar dr dalam pasir, merangkak dg ke empat flippernya menuju pantai; sungguh gerakan yang sempurna bagi sy.. perlu kerja keras yang luar biasa untuk melakukan ini semua.

Satu persatu tukik keluar dari sarangnya, ada yg mati, ada yang masih berjuang keluar dari cangkang telurnya; sy bertanya dalam hati “bagaimana telur penyu yang berada paling bawah? Apakah mereka punya kesempatan untuk hidup seperti temannya yang lain?

perjuangan mereka tidak terhenti sampai di situ, ancaman selalu ada, predator telah menunggu mereka di pantai dan di laut, siap untuk menyantap mereka.

bagi sy itu adalah prosedur hidup yang alami untuk mereka, justru itu yang membuat mereka bisa servive sampai sekarang. tidak heran, ada kurang lebih 100 butir yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, untuk menyeimbangi fenomena seperti ini

Suara gemuruh ombak adalah impian pertama mereka, yang akan membawa mereka jauh dari pantai, walaupun mereka belum aman di sini, paling tidak, mereka bisa merasakan nikmatnya berenang yang akan jadi tempat tinggal mereka nantinya. Bisa dibayangkan, saking takutnya mereka dg pantai, mereka berenang terus-menerus selama 7 hari pertamanya di laut (referensi lain menyebutkan 1 hari pertama), para ahli menamakannya sebagai “swimming frenzy”.

lebih bahaya lagi manusia, predator satu ini dilengkapi chip yang membuat mereka bisa berfikir mana yg baik dan mana yg buruk. tp virus serakah telah masuk ke program chip mereka, membutakan mati hati mereka, seolah tidak akan terjadi apa2x dg tindakan yg mereka lakukan.

mitos obat kuat menjadi alasan mereka untuk mencuri telur ini. belum genap usia mereka 1 hari, mereka sudah di masukkan ke dalam karung2x yang siap untuk di distribusikan kemana-mana.. padahal, berdasarkan informasi yang saya dapat, kandungan kolesterol pada telur penyu lebih tinggi dari pada telur ayam.
Penyu (daging, organ, darah, dan telur) terindikasi mengandung parasit, bakteria berbahaya seperti E.Coli dan Salmonella, biotoksin, dan zat pencemar seperti logam berat, karena:
  • Penyu berenang mengarungi laut yang semakin tercemar
  • Penyu berumur panjang, sehingga lama berkontak dengan laut yang tercemar
  • Penyu berada di tingkat atas rantai makanan, sehingga zat pencemar di dalam makanannya terakumulasi di dalam tubuh penyu
Kandungan ini terbukti memberikan dampak berupa gangguan syaraf, penyakit ginjal, kanker hati serta berpengaruh pada perkembangan janin dan anak (A. Alonso Aguirre, et.al, EcoHealth Journal Consortium, 2006).

apakah kenyataan ini masih tetap menjadi pilihan sebagai obat kuat?

Mari kita pikirkan kembali untuk TIDAK MENGKONSUMSI TELUR PENYU, MAUPUN DAGINGNYA..
Coba lihat skema berikut ini..
TELUR PENYU (MITOS OBAT KUAT) > PENCURI > PENADAH > PENJUAL > KONSUMEN

Mari kita putar balik skema ini.
KONSUMEN > PENJUAL > PENADAH > PENCURI > TELUR PENYU (MITOS OBAT KUAT)

Jika kita sadar dengan kondisi penyu sekarang, kemungkinannya akan seperti ini:
KONSUMEN > PENJUAL > PENADAH > PENCURI > TELUR PENYU (MITOS OBAT KUAT)

Paling tidak konsumsi telur penyu hanya dilakukan oleh mereka yg tinggal di dekat2x pantai peneluran, dan tidak untuk diperjualbelikan..
Dengan ini, populasi penyu tidak akan menurun secara signifikan.

Ini adalah kenangan sy ketika berada di sana (Nesting Beach Selimpai, Kec. Paloh kab, Sambas)
  1. Penyu hijau ketika ingin kembali ke laut, setelah menetaskan ± 110 buah telur (sy sempat mengukur panjang kerapaksnya ± 120 cm…)
  2. Penetasan semi alami (tidak lagi terawat dengan baik)
  3. Tempat penangkaran tukik yang telah menetas
  4. Track penyu hijau setelah bertelur (karena gangguan manusia, track penyu ketika ingin pulang tidak teratur/atau mengalami dis-orientasi)
  5. Penyu hijau sedang menutup lubang tubuh/body fit
  6. Surganya penyu hijau; abrasi pantai tidak bisa dihindarkan lagi. Mungkinkah akan tetap menjadi surganya penyu?
READ MORE - CATATAN BUAT TUKIK PENYU HIJAU
Labels: ,

FOLLOWER